![]() |
| (Lingkaran tarian Lego-lego) |
PRESSUPDATE - Salah seorang mahasiswi semester 2 (dua) program studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajak Netisen untuk mengenali Kampung Adat Takpala.
Dia adalah Filladelvia Mangma (Nim; 1806050012) yang melalui media statement (Facebook), Minggu (16/6/2019) memilih Takpala sebagai objek dalam penulisan tugas ujian akhir semester yang berkaitan dengan pengetahuan kebudayaan lahan kering dan pariwisata di Kabupaten Alor-NTT.
“Alor sendiri merupakan sebuah pulau kecil yang namanya tidak asing lagi di telinga masyarakat. Pulau kecil yang juga dikenal dengan negeri Seribu Moko ini mempunyai banyak sekali tempat wisata yang patut di kunjungi. Bukan saja tentang wisata Pantai yang indah tapi juga menarik untuk di kunjungi adalah Takpala,” tulis Filladelvia.
Dijelaskan Filladelvia bahwa Takpala merupakan perkampungan adat suku Abui (Suku terbesar di Kabupaten Alor) yang terletak di Dusun II, Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor-NTT. Sebagai kampung adat, Takpala memiliki 12 Rumah Adat yang unik dan cukup baik karena masih tertata rapi.
“Di Takpala bisa dijumpai kehidupan yang sangat bersahaja. Penduduk disana menyandarkan kehidupan sehari-hari pada hasil kebun dan hutan. Sehingga ketika berkunjung di siang hari, suasana kampung tampak sepi karena penduduknya pergi ke kebun dan hutan untuk mencari kebutuhan hidup,” imbuhnya.
Dia juga menerangkan ketika berkujung kesana, pengunjung dapat menyaksikan tarian has Takpala, yakin; Calalele dan Lego-lego sebagai simbol persaudaraan.
“Calalele akan dilakukan beberapa orang dengan sebagai tarian penjemputan tamu yang juga disebut dengan tarian perang pada masa lalu dan tarian lego-lego yang dilakukan secara massal, bergandengan tangan secara melingkar sambil tetabuhan gong dan moko mengiringi gerak rencak para penari,” terang Filladelvia.
Filladelvia tidak lupa menginfomasikan perjalanan ke Takpala dari Bandar Udara Mali-Alor bisa di tempuh dengan ojek sepeda motor atau mobil travel sekira 15 menit. Jika dengan kendaraan umum dari Terminal kalabahi, Ibu kota kabupaten Alor, bisa menggunakan Bus jurusan Bukapiting lalu turun di Takalelang.
“Papan Informasi Welcome to Takpala menyambut di depan jalan mendaki beraspal menuju perkampungan tersebut. Perjalanan dari Takalelang menuju Takpala memerlukan waktu sekira 15 menit jika berjalan kaki. Menariknya, memasuki kawasan Takpala tidak dipungut retribusi sedikit pun,” jelasnya.
Selain itu, Filladelvia juga mengingatkan kepada para pengunjung bahwa untuk menyaksikan atraksi budaya cakalele dan lego-lego, pengunjung harus merogoh kantong sekira dua sampai dua stengah juta rupiah. Tidak hanya itu, jika ingin berfoto mengenakan busana adat Takpala maka per orang harus punya lima puluh ribu rupiah. Salain itu, disana juga terdapat pernak-pernik buatan tangan para Ibu.
“Keindahan dan keramahan penduduk Takpala seakan menyatu dan membingkiskan pengalaman yang berkesan saat berkunjung ke sana. Kesederhanaan dapat teman-teman temukan kedekatan hati dan kesan yang mendalam sebagai simbol ‘Tara Miti Tomi Nuku’ yang mempersatukan keragaman. Itulah kami, Alor. Hal ini kemudian banyak disebut ALOR adalah Alam Lestari dan Orangnya Ramah,” pungkasnya!
Untuk diketahui, Tara Miti Tomi Nuku merupakan semboyan orang Alor. Itu berasal dari salah satu bahasa Abui yang juga digunakan penduduk Takpala yang mana memiliki pengertian, berbeda; suku, agama, budaya dan status sosial namun dalam hati kita tetap satu, Persaudaraan. “Jadi tidak perlu takut datang ke Alor. Saya jamin teman-teman akan punya pengalaman yang menyenangkan di Alor,” tutup Filladelvia.


Komentar
Posting Komentar